Oleh: isheti | Maret 27, 2010

Dimatamu ada Sekolah

Tubuh mungilnya dibalut kulit kering tak berisi, matanya lelah akan gemerlap dunia, suara paraunya tak pernah berhenti berkidung sendu menyayat hati. Di Terminal Pancasila Tasikmalaya tahun 2004 lalu.
Hatiku ngilu melihat pemandangan itu, disandangnya pakaian sekolah dasar yang telah lusuh dengan kecrek ditangannya. Berjalan kesana kemari tepat matahari di atas ubun-ubun. Mengamen mengganjal perut demi selembar kehidupan dengan suara parau yang tak lelah berhenti. Menggebrak nurani tiap orang yang lewat di terminal Pancasila Tasikmalaya. Rupanya sebuah kereta dari Banjarlah yang telah membawa bocah 7 tahun itu ke Kota Resik Tasikmalaya. Sebuah mimpi yang menyeruak jiwaku, membakar batu keegoisanku lalu meluluhkan hatiku yang keras ini. Sebuah mimpi terucap pelan dari mulutnya “Aku ingin tetap bersekolah teteh..”
Sebuah mimpi anak seorang pemulung yang patut diacungi jempol. Cita-citanya untuk bersekolah ia gantungkan tinggi-tinggi. Namun apa yang terjadi sobat belia.
Setahun kemudian malam itu aku lihat, di perempatan jalan itu ada kengiluan, tidak Ya Rob! Yusuf berjalan dengan raut muka sendu, bernyanyi lemah tak berdaya pada keheningan malam yang dingin menusuk jiwa. Pada waktu yang terus merangkak dunia yang kejam. “Teh abi mah sok bolos ayena mah tara sakola…” seketika itu hatiku tersayat pedih mendengar kata yang meluncur sendu dari mulut kecilnya.
Sobat renungkanlah demi uang dua puluh ribu ia kobarkan masa kecilnya, demi perut keroncongannya ia tinggalkan mimpinya, ia relakan bangku sekolah dan teman-teman yang menunggunya.
Jarum kewarasanku berdetak, bagaimana mungkin aku membuang waktuku, terus berkutat pada aksi protes UAN, sementara saudaraku lebih tidak beruntung.
Kutengok lagi Pangandaran malangku, sobat belia sebanyak 2000 anak korban tsunami Pangandaran di Kecamatan Parigi tidak bisa mengenyam pendidikan dasar 9 tahun dan sekarang masih dikelola PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang didanai pogram PPK-IPM Kab Ciamis. Ironis bukan?
Betapa kufurnya aku pada nikmatmu ya Rob, mengapa kita terus terjebak memikirkan kebijakan UAN, tidakah lebih baik dengan menambah jam belajar? Tidakah kita malu pada anak jalanan dan korban tsunami, betapa mereka merindukan bangku sekolah. Sebuah mimpi agung yang patut ditiru. Yeah..mimpi itu milik siapa saja begitu pula kesuksesan. Karena mimpi ibarat klise negatif film dan kerja keras adalah mesin cetak untuk mewujudkannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: