Oleh: isheti | Juni 9, 2010

BIO 4

TEORI EVOLUSI
TEORI EVOLUSI: PENIPUAN ILMIAH PALING TERSOHOR SEPANJANG SEJARAH
Sebagian orang yang pernah mendengar “teori evolusi” atau “Darwinisme” mungkin beranggapan bahwa konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi biologi dan tidak berpengaruh sedikit pun terhadap kehidupan sehari-hari. Anggapan ini sangat keliru sebab teori ini ternyata lebih dari sekadar konsep biologi. Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar manusia. Filsafat tersebut adalah “materialisme”, yang mengandung sejumlah pemikiran penuh kepalsuan tentang mengapa dan bagaimana manusia muncul di muka bumi. Materialisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun selain materi dan materi adalah esensi dari segala sesuatu, baik yang hidup maupun tak hidup. Berawal dari pemikiran ini, materialisme mengingkari keberadaan Sang Maha Pencipta.

Di abad ke-20, teori evolusi telah terbantahkan tidak hanya oleh ilmu biologi molekuler, tapi juga oleh paleontologi, yakni ilmu tentang fosil. Tidak ada sisa fosil yang mendukung evolusi yang pernah ditemukan dalam penggalian yang dilakukan di seluruh penjuru dunia

Fosil adalah sisa jasad makhluk hidup yang pernah hidup di masa lampau. Bentuk dan susunan kerangka makhluk hidup, yang tubuhnya segera terlindungi dari sentuhan udara, dapat terawetkan secara utuh. Sisa kerangka ini memberi kita keterangan tentang sejarah kehidupan di bumi. Jadi, catatan fosil lah yang memberikan jawaban ilmiah terhadap pertanyaan seputar asal usul makhluk hidup.

PENDAPAT DARWIN

Teori evolusi menyatakan bahwa semua makhluk hidup yang beraneka ragam berasal dari satu nenek moyang yang sama. Menurut teori ini, kemunculan makhluk hidup yang begitu beragam terjadi melalui variasi-variasi kecil dan bertahap dalam rentang waktu yang sangat lama. Teori ini menyatakan bahwa awalnya makhluk hidup bersel satu terbentuk. Selama ratusan juta tahun kemudian, makhluk bersel satu ini berubah menjadi ikan dan hewan invertebrata (tak bertulang belakang) yang hidup di laut. Ikan-ikan ini kemudian diduga muncul ke daratan dan berubah menjadi reptil. Dongeng ini pun terus berlanjut, dan seterusnya sampai pada pernyataan bahwa burung dan mamalia berevolusi dari reptil.

Seandainya pendapat ini benar, mestinya terdapat sejumlah besar “spesies peralihan” (juga disebut sebagai spesies antara, atau spesies mata rantai) yang menghubungkan satu spesies dengan spesies yang lain yang menjadi nenek moyangnya. Misalnya, jika reptil benar-benar telah berevolusi menjadi burung, maka makhluk separuh-burung separuh-reptil dengan jumlah berlimpah mestinya pernah hidup di masa lalu. Di samping itu, makhluk peralihan ini mestinya memiliki organ dengan bentuk yang belum sempurna atau tidak lengkap. Darwin menamakan makhluk dugaan ini sebagai “bentuk-bentuk peralihan antara”.

Skenario evolusi juga mengatakan bahwa ikan, yang berevolusi dari invertebrata, di kemudian hari merubah diri mereka sendiri menjadi amfibi yang dapat hidup di darat. (Amfibi adalah hewan yang dapat hidup di darat dan di air, seperti katak). Tapi, sebagaimana yang ada dalam benak Anda, skenario ini pun tidak memiliki bukti. Tak satu fosil pun yang menunjukkan makhluk separuh ikan separuh amfibi pernah ada.

Dia saat mengemukakan teori ini, ia tidak dapat menunjukkan bukti-bukti fosil bentuk peralihan ini. Dengan kata lain, Darwin sekedar menyampaikan dugaan yang tanpa disertai bukti.

COELACANTH TERNYATA MASIH HIDUP

Hingga 70 tahun yang lalu, evolusionis mempunyai fosil ikan yang mereka yakini sebagai “nenek moyang hewan-hewan darat”. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan meruntuhkan seluruh pernyataan evolusionis tentang ikan ini. Ketiadaan fosil bentuk peralihan antara ikan dan amfibi adalah fakta yang juga diakui oleh para evolusionis hingga kini. Namun, sampai sekitar 70 tahun yang lalu, fosil ikan yang disebut coelacanth diterima sebagai bentuk peralihan antara ikan dan hewan darat. Evolusionis menyatakan bahwa coelacanth, yang diperkirakan berumur 410 juta tahun, adalah bentuk peralihan yang memiliki paru-paru primitif, otak yang telah berkembang, sistem pencernaan dan peredaran darah yang siap untuk berfungsi di darat, dan bahkan mekanisme berjalan yang primitif. Penafsiran evolusi ini diterima sebagai kebenaran yang tak perlu diperdebatkan lagi di dunia ilmiah hingga akhir tahun 1930-an.

Namun, pada tanggal 22 Desember 1938, penemuan yang sangat menarik terjadi di Samudra Hindia. Seekor ikan dari famili coelacanth, yang sebelumnya diajukan sebagai bentuk peralihan yang telah punah 70 juta tahun yang lalu, berhasil ditangkap hidup-hidup! Tak diragukan lagi, penemuan ikan coelacanth “hidup” ini memberikan pukulan hebat bagi para evolusionis. Ahli paleontologi evolusionis, J. L. B. Smith, mengatakan ia tidak akan terkejut lagi jika bertemu dengan seekor dinosaurus yang masih hidup. (Jean-Jacques Hublin, The Hamlyn Encyclopædia of Prehistoric Animals, New York: The Hamlyn Publishing Group Ltd., 1984, hal. 120). Pada tahun-tahun berikutnya, 200 ekor coelacanth berhasil ditangkap di berbagai tempat berbeda di seluruh dunia.

BERAKHIRNYA SEBUAH MITOS
Coelacanth ternyata masih hidup! Tim yang menangkap coelacanth hidup pertama di Samudra Hindia pada tanggal 22 Desember 1938 terlihat di sini bersama ikan tersebut

Keberadaan coelacanth yang masih hidup mengungkapkan sejauh mana evolusionis dapat mengarang skenario khayalan mereka. Bertentangan dengan pernyataan mereka, coelacanth ternyata tidak memiliki paru-paru primitif dan tidak pula otak yang besar. Organ yang dianggap oleh peneliti evolusionis sebagai paru-paru primitif ternyata hanyalah kantung lemak. (Jacques Millot, “The Coelacanth”, Scientific American, Vol 193, December 1955, hal. 39). Terlebih lagi, coelacanth, yang dikatakan sebagai “calon reptil yang sedang bersiap meninggalkan lautan untuk menuju daratan”, pada kenyataannya adalah ikan yang hidup di dasar samudra dan tidak pernah mendekati rentang kedalaman 180 meter dari permukaan laut. (Bilim ve Teknik (Science and Technology), November 1998, No. 372, hal. 21).

MANUSIA BERAHANG KERA

Tengkorak Manusia Piltdown dikemukakan kepada dunia selama lebih dari 40 tahun sebagai bukti terpenting terjadinya “evolusi manusia”. Akan tetapi, tengkorak ini ternyata hanyalah sebuah kebohongan ilmiah terbesar dalam sejarah.

Rekonstruksi tengkorak manusia Piltdown yang pernah
diperlihatkan di berbagai museum

Pada tahun 1912, seorang dokter terkenal yang juga ilmuwan paleoantropologi amatir, Charles Dawson, menyatakan dirinya telah menemukan satu tulang rahang dan satu fragmen tengkorak dalam sebuah lubang di Piltdown, Inggris. Meskipun tulang rahangnya lebih menyerupai kera, gigi dan tengkoraknya menyerupai manusia. Spesimen ini diberi nama “Manusia Piltdwon”. Fosil ini diyakini berumur 500.000 tahun, dan dipamerkan di berbagai museum sebagai bukti nyata evolusi manusia. Selama lebih dari 40 tahun, banyak artikel ilmiah telah ditulis tentang “Manusia Piltdown”, sejumlah besar penafsiran dan gambar telah dibuat, dan fosil ini diperlihatkan sebagai bukti penting evolusi manusia. Tidak kurang dari 500 tesis doktoral telah ditulis tentang masalah ini. (Malcolm Muggeridge, The End of Christendom, Grand Rapids, Eerdmans, 1980, hal. 59.)

Pada tahun 1949, Kenneth Oakley dari departemen paleontologi British Museum mencoba melakukan “uji fluorin”, sebuah cara uji baru untuk menentukan umur sejumlah fosil kuno. Pengujian dilakukan pada fosil Manusia Piltdown. Hasilnya sungguh mengejutkan. Selama pengujian, diketahui ternyata tulang rahang Manusia Piltdown tidak mengandung fluorin sedikit pun. Ini menunjukkan tulang tersebut telah terkubur tak lebih dari beberapa tahun yang lalu. Sedangkan tengkoraknya, yang mengandung sejumlah kecil fluorin, menunjukkan umurnya hanya beberapa ribu tahun.

Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa Manusia Piltdown merupakan penipuan ilmiah terbesar dalam sejarah. Ini adalah tengkorak buatan; tempurungnya berasal dari seorang lelaki yang hidup 500 tahun yang lalu, dan tulang rahangnya adalah milik seekor kera yang belum lama mati! Kemudian gigi-giginya disusun dengan rapi dan ditambahkan pada rahang tersebut, dan persendi-annya diisi agar menyerupai pada manusia. Kemudian seluruh bagian ini diwarnai dengan potasium dikromat untuk memberinya penampakan kuno.

Le Gros Clark, salah seorang anggota tim yang mengungkap pemalsuan ini, tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya dan mengatakan: “bukti-bukti abrasi tiruan segera tampak di depan mata. Ini terlihat sangat jelas sehingga perlu dipertanyakan – bagaimana hal ini dapat luput dari penglihatan sebelumnya?” (Stephen Jay Gould, “Smith Woodward’s Folly”, New Scientist, 5 April 1979, hal. 44) Ketika kenyataan ini terungkap, “Manusia Piltdown” dengan segera dikeluarkan dari British Museum yang telah memamerkannya selama lebih dari 40 tahun.

Manusia Piltdown merupakan pemalsuan yang dilakukan dengan merekatkan rahang kera pada tengkorak manusia

Skandal Piltdown dengan jelas memperlihat-kan bahwa tidak ada yang dapat menghentikan para evolusionis dalam rangka membuktikan teori-teori mereka. Bahkan, skandal ini menunjukkan para evolusionis tidak memiliki penemuan apa pun yang mendukung teori mereka. Karena mereka tidak memiliki bukti apa pun, mereka memilih untuk membuatnya sendiri.

KEKELIRUAN PEMIKIRAN TENTANG REKAPITULASI

Teori Haeckel ini menganggap bahwa embrio hidup mengalami ulangan proses evolusi seperti yang dialami moyang-palsunya. Haeckel berteori bahwa selama perkembangan di dalam rahim ibunya, embrio manusia kali pertama memperlihatkan sifat-sifat seekor ikan, lalu reptil, dan akhirnya manusia.

Sejak itu telah dibuktikan bahwa teori ini sepenuhnya omong kosong. Kini telah diketahui bahwa “insang-insang” yang disangka muncul pada tahap-tahap awal embrio manusia ternyata adalah taraf-taraf awal saluran telinga dalam, kelenjar paratiroid, dan kelenjar gondok. Bagian embrio yang diserupakan dengan “kantung kuning telur” ternyata kantung yang menghasilkan darah bagi si janin. Bagian yang dikenali sebagai “ekor” oleh Haeckel dan para pengikutnya sebenarnya tulang belakang, yang mirip ekor hanya karena tumbuh mendahului kaki.
Inilah fakta-fakta yang diterima luas di dunia lmiah, dan bahkan telah diterima oleh para evolusionis sendiri. Dua pemimpin neo-Darwinis, George Gaylord Simpson dan W. Beck telah mengakui:

Haeckel keliru menyatakan azas evolusi yang terlibat. Kini telah benar-benar diyakini bahwa ontogeni tidak mengulangi filogeni

Segi menarik lain dari “rekapitulasi” adalah Ernst Haeckel sendiri, seorang pemalsu yang mereka-reka gambar-gambar demi mendukung teori yang diajukannya. Pemalsuan Haeckel bermaksud menunjukkan bahwa embrio-embrio ikan dan manusia mirip satu sama lain.

Pada terbitan 5 September 1997 majalah ilmiah Science, sebuah artikel diterbitkan yang mengungkapkan bahwa gambar-gambar embrio Haeckel adalah karya penipuan. Artikel berjudul “Haeckel’s Embryos: Fraud Rediscovered” (Embrio-embrio Haeckel: Mengungkap Ulang Sebuah Penipuan) ini mengatakan:

Kesan yang dipancarkan [gambar-gambar Haeckel] itu, bahwa embrio-embrio persis serupa, adalah keliru, kata Michael Richardson, seorang ahli embriologi pada St. George’s Hospital Medical School di London… Maka, ia dan para sejawatnya melakukan penelitian perbandingan, memeriksa kembali dan memfoto embrio-embrio yang secara kasar sepadan spesies dan umurnya dengan yang dilukis Haeckel. Sim salabim dan perhatikan! Embrio-embrio “sering dengan mengejutkan tampak berbeda,” lapor Richardson dalam Anatomy and Embryology terbitan Agustus [1997]. Pada terbitan 5 September 1997 majalah ilmiah Science, sebuah artikel diterbitkan yang mengungkapkan bahwa gambar-gambar embrio Haeckel adalah karya penipuan. Artikel berjudul “Haeckel’s Embryos: Fraud Rediscovered” (Embrio-embrio Haeckel: Mengungkap Ulang Sebuah Penipuan) ini mengatakan:

Kesan yang dipancarkan [gambar-gambar Haeckel] itu, bahwa embrio-embrio persis serupa, adalah keliru, kata Michael Richardson, seorang ahli embriologi pada St. George’s Hospital Medical School di London… Maka, ia dan para sejawatnya melakukan penelitian perbandingan, memeriksa kembali dan memfoto embrio-embrio yang secara kasar sepadan spesies dan umurnya dengan yang dilukis Haeckel. Sim salabim dan perhatikan! Embrio-embrio “sering dengan mengejutkan tampak berbeda,” lapor Richardson dalam Anatomy and Embryology terbitan Agustus [1997].

Penelitian di tahun-tahun terakhir telah menunjukkan bahwa embrio-embrio dari spesies yang berbeda tidak saling mirip, seperti yang ditunjukkan Haeckel. Perbedaan besar di antara embrio-embrio mamalia, reptil, dan kelelawar di atas adalah contoh nyata hal ini

Science menjelaskan bahwa, demi menunjukkan bahwa embrio-embrio memiliki kemiripan, Haeckel sengaja menghilangkan beberapa organ dari gambar-gambarnya atau menambahkan organ-organ khayalan. Belakangan, di dalam artikel yang sama, informasi berikut ini diungkapkan:

Bukan hanya menambahkan atau mengurangi ciri-ciri, lapor Richardson dan para sejawatnya, namun Haeckel juga mengubah-ubah ukuran untuk membesar-besarkan kemiripan di antara spesies-spesies, bahkan ketika ada perbedaan 10 kali dalam ukuran. Haeckel mengaburkan perbedaan lebih jauh dengan lalai menamai spesies dalam banyak kesempatan, seakan satu wakil sudah cermat bagi keseluruhan kelompok hewan. Dalam kenyataannya, Richardson dan para sejawatnya mencatat, bahkan embrio-embrio hewan yang berkerabat dekat seperti ikan cukup beragam dalam penampakan dan urutan perkembangannya.

Artikel Science membahas bagaimana pengakuan-pengakuan Haeckel atas masalah ini ditutup-tutupi sejak awal abad ke-20, dan bagaimana gambar-gambar palsu ini mulai disajikan sebagai fakta ilmiah di dalam buku-buku acuan:

Pengakuan Haeckel lenyap setelah gambar-gambarnya kemudian digunakan dalam sebuah buku tahun 1901 berjudul Darwin and After Darwin (Darwin dan Sesudahnya) dan dicetak ulang secara luas di dalam buku-buku acuan biologi berbahasa Inggris.

Singkatnya, fakta bahwa gambar-gambar Haeckel dipalsukan telah muncul di tahun 1901, tetapi seluruh dunia ilmu pengetahuan terus diperdaya olehnya selama satu abad.

TATKALA MANUSIA MENCARI NENEK MOYANGNYA

Walaupun para evolusionis tidak berhasil menemukan bukti ilmiah untuk mendukung teori mereka, mereka sangat berhasil dalam satu hal: propaganda. Unsur paling penting dari propaganda ini adalah gambar-gambar palsu dan bentuk tiruan yang dikenal dengan “rekonstruksi”.

Rekonstruksi dapat diartikan sebagai membuat lukisan atau membangun model makhluk hidup berdasarkan satu potong tulang yang ditemukan dalam penggalian. “Manusia-manusia kera” yang kita lihat di koran, majalah atau film semuanya adalah rekonstruksi.

Ketika mereka tidak mampu menemukan makhluk “setengah manusia setengah kera” dalam catatan fosil, mereka memilih membohongi masyarakat dengan membuat gambar-gambar palsu.

Persis seperti pernyataan evolusionis yang lain tentang asal-usul makhluk hidup, pernyataan mereka tentang asal-usul manusia pun tidak memiliki landasan ilmiah. Berbagai penemuan menunjukkan bahwa “evolusi manusia” hanyalah dongeng belaka

Darwin mengemukakan pernyataannya bahwa manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama dalam bukunya The Descent of Man yang terbit tahun 1971. Sejak saat itu, para pengikut Darwin telah berusaha untuk memperkuat kebenaran pernyataan tersebut. Tetapi, walaupun telah melakukan berbagai penelitian, pernyataan “evolusi manusia” belum pernah dilandasi oleh penemuan ilmiah yang nyata, khususnya di bidang fosil.

Penemuan ini jelas menunjukkan pendapat tentang sifat-sifat perolehan yang terkumpul dari satu keturunan ke turunan berikutnya, sehingga memunculkan spesies baru, tidaklah mungkin. Dengan kata lain, mekanisme seleksi alam rumusan Darwin tidak berkemampuan mendorong terjadinya evolusi. Jadi, teori evolusi Darwin sesungguhnya telah ambruk sejak awal di abad ke-20 dengan ditemukannya ilmu genetika. Segala upaya lain dari para pendukung evolusi di abad ke-20 selalu gagal.

Teori evolusi menyatakan bahwa kelompok makhluk hidup yang berbeda-beda (filum) terbentuk dan berkembang dari satu nenek moyang bersama, dan berubah menjadi bentuk yang semakin berbeda satu sama lain seiring berlalunya waktu. Gambar paling atas menampilkan pernyataan ini, yang dapat digambarkan menyerupai proses percabangan pohon. Namun, fakta catatan fosil malah membuktikan kebalikannya. Sebagaimana diperlihatkan gambar paling bawah, beragam kelompok makhluk hidup muncul serentak dan tiba-tiba dengan ciri tubuh masing-masing yang khas. Sekitar 100 filum mendadak muncul di zaman Kambrium. Setelah itu, jumlah mereka menurun (karena punahnya sejumlah filum) , dan bukannya meningkat.
Evolusi KUda
EVOLUSI KUDA
PERHATIKAN PERUBAHAN YANG TERJADI PADA
– JUMLAH JARI
– UKURAN GIGI
– JARAK MATA DENGAN MULUT
– ROTASI TUBUH
– ZAMAN GEOLOGI

(HYRACOTHERIUM)

EOHIPPUS – MESSOHIPPUS – MERRYHYPPUS – PLIOHIPPUS – EQUUS
(sorry artinya MESO dulu baru MERRY)
Berikut juga disertakan gambar fosil dalam Foto Asli kuda Hiracotherium /Eohippus Kuda zaman Eosin (56 Juta tahun yang lalu)
TEORI ABIOGENESIS
Tokoh teori Abiogenesis adalah Aristoteles (384-322 SM). Dia adalah seorang filosof dan tokoh ilmu pengetahuan Yunani Kuno. Teori Abiogenesis ini menyatakan bahwa makhluk hidup yang pertama kali menghuni bumi ini berasal dari benda mati.
Sebenarnya Aristoteles mengetahui bahwa telur-telur ikan apabila menetas akan menjadi ikan yang sifatnya sama seperti induknya. Telur-telur tersebut merupakan hasil perkawinan dari induk-induk ikan. Walau demikian, Aristoteles berkeyakinan bahwa ada ikan yang berasal dari Lumpur.
Bagaimana cara terbentuknya makhluk tersebut ? Menurut pengzanut paham abiogenesis, makhluk hidup tersebut terjadi begitu saja atau secara spontan. Oleh sebab itu, paham atau teori abiogenesis ini disebut juga paham generation spontaneae.
Jadi, kalau pengertian abiogenesis dan generation spontanea kita gabungkan, mak pendapat paham tersebut adalah makhluk hidup yang pertama kali di bumi tersebut dari benda mati / tak hidup yang terkjadinya secara spontan, misalnya :
1. ikan dan katak berasal dari Lumpur.
2. Cacing berasal dari tanah, dan
3. Belatung berasal dari daging yang membusuk.
Paham abiogenesis bertahan cukup lama, yaitu semenjak zaman Yunani Kuno (Ratusan Tahun Sebelum Masehi) hingga pertengahan abad ke-17.
Pada pertengahan abad ke-17, Antonie Van Leeuwenhoek menemukan mikroskop sederhana yang dapat digunakan untuk mengamati benda-benda aneh yang amat kecil yang terdapat pada setetes air rendaman jerami. Oleh para pendukung paham abiogenesis, hasil pengamatan Antonie Van Leeuwenhoek ini seolah-olah memperkuat pendapat mereka
TEORI ABIOGENESIS
Tokoh teori Abiogenesis adalah Aristoteles (384-322 SM). Dia adalah seorang filosof dan tokoh ilmu pengetahuan Yunani Kuno. Teori Abiogenesis ini menyatakan bahwa makhluk hidup yang pertama kali menghuni bumi ini berasal dari benda mati.
Sebenarnya Aristoteles mengetahui bahwa telur-telur ikan apabila menetas akan menjadi ikan yang sifatnya sama seperti induknya. Telur-telur tersebut merupakan hasil perkawinan dari induk-induk ikan. Walau demikian, Aristoteles berkeyakinan bahwa ada ikan yang berasal dari Lumpur.
Bagaimana cara terbentuknya makhluk tersebut ? Menurut pengzanut paham abiogenesis, makhluk hidup tersebut terjadi begitu saja atau secara spontan. Oleh sebab itu, paham atau teori abiogenesis ini disebut juga paham generation spontaneae.
Jadi, kalau pengertian abiogenesis dan generation spontanea kita gabungkan, mak pendapat paham tersebut adalah makhluk hidup yang pertama kali di bumi tersebut dari benda mati / tak hidup yang terkjadinya secara spontan, misalnya :
ikan dan katak berasal dari Lumpur.
Cacing berasal dari tanah, dan
Belatung berasal dari daging yang membusuk.
Paham abiogenesis bertahan cukup lama, yaitu semenjak zaman Yunani Kuno (Ratusan Tahun Sebelum Masehi) hingga pertengahan abad ke-17.
Pada pertengahan abad ke-17, Antonie Van Leeuwenhoek menemukan mikroskop sederhana yang dapat digunakan untuk mengamati benda-benda aneh yang amat kecil yang terdapat pada setetes air rendaman jerami. Oleh para pendukung paham abiogenesis, hasil pengamatan Antonie Van Leeuwenhoek ini seolah-olah memperkuat pendapat mereka
TEORI BIOGENESIS
Walaupun telah bertahan selama ratusan tahun, tidak semua orang membenarkan paham abiogenesis. Orang –orang yang ragu terhadap kebenaran paham abiogenesis tersebut terus mengadakan penelitian memecahkan masalah tentang asal usul kehidupan. Orang-orang yang tidak puas terhadap pandangan Abiogenesis itu antara lain Francesco Redi (Italia, 1626-1799), dan Lazzaro Spallanzani ( Italia, 1729-1799), dan Louis Pasteur (Prancis, 1822-1895). Beredasarkan hasil penelitian dari tokoh-tokoh ini, akhirnya paham Abiogenesis / generation spontanea menjadi pudar karena paham tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
a) Percobaan Francesco Redi ( 1626-1697)
Untuk menjawab keragu-raguannya terhadap paham abiogenesis, Francesco Redi mengadakan percobaan. Pada percobaannya Redi menggunakan bahan tiga kerat daging dan tiga toples. Percobaan Redi selengkapnya adalah sebagai berikut :
• Stoples I : diisi dengan sekerat daging, ditutup rapat-rapat.
• Stoples II :diisi dengan sekerat daging, dan dibiarkan tetap terbuka.
• Stoples III : disi dengan sekerat daging, dibiarkan tetap terbuka.
Selanjutnya ketiga stoples tersebut diletakkan pada tempat yang aman. Setelah beberapa hari, keadaan daging dalam ketiga stoples tersebut diamati.
Danhasilnya sebagai berikut:
• Stoples I : daging tidak busuk dan pada daging ini tidak ditemukan jentik / larva atau belatung lalat.
• Stoples II : daging tampak membusuk dan didalamnya ditemukan banyak larva atau belatung lalat.
Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Francesco redi menyimpulkan bahwa larva atau belatung yang terdapat dalam daging busuk di stoples II dan III bukan terbentuk dari daging yang membusuk, tetapi berasal dari telur lalat yang ditinggal pada daging ini ketika lalat tersebut hinggap disitu. Hal ini akan lebih jelas lagi, apabila melihat keadaan pada stoples II, yang tertutup kain kasa. Pada kain kasa penutupnya ditemukan lebih banyak belatung, tetapi pada dagingnya yang membusuk belatung relative sedikit.
B) percobaan Lazzaro Spallanzani ( 1729-1799)
Seperti halnya Francesco Redi, Spallanzani juga menyangsikan kebenaran paham abiogeensis. Oleh karena itu, dia mengadakan percobaan yang pada prinsipnya sama dengan percobaan Francesco Redi, tetapi langkah percobaan Spallanzani lebih sempurna.

Sebagai bahan percobaannya, Spallanzani menggunakan air kaldu atau air rebusan daging dan dua buah labu. Adapun percoban yang yang dilakukan Spallanzani selengkapnya adalah sebagai berikut :
• Labu I : diisi air 70 cc air kaldu, kemudian dipanaskan 15oC selama beberapa menit dan dibiarkan tetap terbuka.
• Labu II : diisi 70 cc air kaldu, ditutup rapat-rapat dengan sumbat gabus. Pada daerah pertemuan antara gabus dengan mulut labu diolesi paraffin cair agar rapat benar. Selanjutnya, labu dipanaskan.selanjutnay, labu I dan II didinginkan. Setelah dingin keduanya diletakkan pada tempat terbuka yang bebas dari gangguan hewan dan orang. Setelah lebih kurang satu minggu, diadakan pengamatan terhadap keadaan air kaldu pada kedua labu tersebut.
Hasil percobaannya adalah sebagai berikut :
• Labu I : air kaldu mengalami perubahan, yaitu airnya menjadi bertambah keruh dan baunya menjadi tidak enak. Setelah diteliti ternyata air kaldu pada labu I ini banyak mengandung mikroba.
• Labu II : air kaldu labu ini tidak mengalami perubahan, artinya tetap jernih seperti semula, baunya juga tetap serta tidak mengandung mikroba. Tetapi, apabila labu ini dibiarkan terbuka lebih lama lagi, ternyata juga banyak mengandung mikroba, airnya berubah menjadi lebih keruh serta baunya tidak enak (busuk).
Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Lazzaro Spallanzani menyimpulkan bahwa mikroba yang ada didalam kaldu tersebut bukan berasal dari air kaldu (benda mati), tetapi berasal dari kehidupan diudara. Jadi, adanya pembusukan karena telah terjadi kontaminasi mikroba darimudara ke dalam air kaldu tersebut.
Pendukung paham Abiogenesis menyatakan keberatan terhadap hasil eksperimen Lazzaro Spallanzani tersebut. M,enurut mereka untuk terbentuknya mikroba (makhluk hidup) dalam air kaldu diperlukan udara. Dengan pengaruh udara tersebut terjadilah generation spontanea.
c) Percobaan Louis Pasteur (1822-1895)
Dalam menjawab keraguannya terhadap paham abiogenesis. Pasteur melaksanakan percobaan untuk menyempurnakan percobaan Lazzaro Spallanzani. Dalam percobaanya, Pasteur menggunakan bahan air kaldu dengan alat labu. Langkah-langkah percobaan Pasteur selengkapnya adalah sebagai berikut :
• Langkah I : labu disi 70 cc air kaldu, kemudian ditutup rapat-rapat dengan gabus. Celah antara gabus dengan mulut labu diolesi dengan paraffin cair. Setelah itu pada gabus tersebut dipasang pipa kaca berbentuk leher angsa. Lalu, labu dipanaskan atau disterilkan.
• Langkah II : selanjutnya labu didinginkan dan diletakkan ditempat yang aman. Setelah beberapa hari, keadaan air kaldu diamati. Ternyata air kaldu tersebut tetep jernih dan tidak mengandung mikroorganisme.
• Langkah III : labu yang air kaldu didalamnya tetap jernih dimiringkan sampai air kaldu didalamnya mengalir kepermukaan pipa hingga bersentuhan dengan udara. Setelah itu labu diletakkan kembali pada tempat yang aman selama beberapa hari. Kemudian keadaan air kaldu diamati lagi. Ternyata air kaldu didalam labu meanjadi busuk dan banyak mengandung mikroorganisme.
Melaui pemanasan terhadap perangkat percobaanya, seluruh mikroorganisme yang terdapat dalam air kaldu akan mati. Disamping itu, akibat lain dari pemanasan adalah terbentuknya uap air pada pipa kaca berbentuk leher angsa. Apabila perangkat percobaan tersebut didinginkan, maka air pada pipa akan mengembun dan menutup lubang pipa tepat pada bagian yang berbentuk leher. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya mikroorganisme yang bergentayangan diudara untuk masuk kedalam labu. Inilah yang menyebabkan tetap jernihnya air kaldu pada labu tadi.
Pada saat sebelum pemanasan, udara bebas tetap dapat berhubungan dengan ruangan dalam labu. Mikroorganisme yang masuk bersama udara akan mati pada saat pemanasan air kaldu.
Setelah labu dimiringkan hingga air kaldu sampai kepern\mukan pipa, air kaldu itu akan bersentuhan dengan udara bebas. Disini terjadilah kontaminasi mikroorganisme. Ketika labu dikembalikan keposisi semula (tegak), mikroorganisme tadi ikut terbawa masuk. Sehingga, setelah labu dibiarkan beberapa beberapa waktu air kaldu menjadi akeruh, karena adanya pembusukan oleh mikrooranisme tersebut. Dengan demikian terbuktilah ketidak benaran paham Abiogenesis atau generation spontanea, yangmenyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yang terjadi secara spontan.
Berdasarkan hasil percobaan Redi, Spallanzani, dan Pasteur tersebut, maka tumbanglah paham Abiogenesis, dan munculah paham/teori baru tentang asal usul makhluk hidup yang dikenal dengan teori Biogenesis. Teori itu menyatakan :
omne vivum ex ovo = setiap makkhluk hidup berasal dari telur.
Omne ovum ex vivo = setiap telur berasal dari makhluk hidup, dan
Omne vivum ex vivo = setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya.
Walaupun Louis Pasteur dengan percobaannya telah berhasil menumbangkan paham Abiogenesis atau generation spontanea dan sekaligus mengukuhkan paham Biogenesis, belum berarti bahwa masalah bagaimana terbentuknya makhluk hidup yang pertama kali terjawab.
Disamping teori Abiogenesis dan Biogenesis, masih ada lagi beberapa teori tentang asal usul kehidupan yang dikembangkan pleh beberapa Ilmuwan, diantaranya adalah sebagai berikut :
Teori kreasi khas, yang menyatakan bahwa kehidupan diciptakan oleh zat supranatural (Ghaib) pada saat yang istimewa.
Teori Kosmozoan, yang menyatakan bahwa kehidupan yang ada di planet ini berasal dari mana saja.
Teori Evolusi Kimia, yang menyatakan bahwa kehidupan didunia ini muncul berdasarkan hukum Fisika Kimia.
Teori Keadaan Mantap, menyatakan bahwa kehidupan tidak berasal usul.
MITOSIS
Mitosis
Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas
Tidak boleh disamakan dengan meiosis , miosis , atau myositis .

Membagi mitosis kromosom dalam inti sel .

Mitosis adalah proses dimana suatu eukariotik sel memisahkan kromosom dalam perusahaan inti sel menjadi dua kelompok yang identik di dua inti. [1] Hal ini umumnya diikuti langsung oleh sitokinesis , yang membagi inti, sitoplasma , organel dan membran sel menjadi dua sel yang mengandung kira-kira sama saham ini komponen selular. Mitosis dan sitokinesis bersama-sama menentukan mitosis (M) fase siklus sel – pada divisi dari sel induk menjadi dua sel anak, genetik identik satu sama lain dan untuk sel induk mereka. Ini menyumbang sekitar 10% dari siklus sel.

Mitosis terjadi secara eksklusif dalam eukariotik sel, tetapi terjadi dengan cara yang berbeda dalam spesies yang berbeda. Misalnya, hewan menjalani “terbuka” mitosis, di mana amplop nuklir rusak sebelum kromosom yang terpisah, sedangkan jamur seperti Aspergillus nidulans dan Saccharomyces cerevisiae ( ragi ) mengalami “tertutup” mitosis, di mana kromosom dibagi dalam suatu utuh inti sel . [2] prokariotik sel, yang tidak inti, bagi dengan proses yang disebut pembelahan biner .

Proses mitosis adalah sangat kompleks dan diatur. Urutan peristiwa ini dibagi menjadi fase, sesuai dengan menyelesaikan satu set kegiatan dan awal berikutnya. Tahap ini adalah profase, prometaphase, metafase, anafase dan telofase. Selama proses mitosis yang pasang kromosom mengembun dan melampirkan serat yang menarik kromatid kakak ke sisi berlawanan dari sel. Sel kemudian dibagi di sitokinesis , untuk menghasilkan dua sel anak yang identik. [3]

Karena sitokinesis biasanya terjadi dalam kaitannya dengan mitosis, “mitosis” sering digunakan bergantian dengan “fase mitosis”. Namun, ada banyak sel mitosis dan sitokinesis mana terjadi secara terpisah, membentuk sel tunggal dengan beberapa inti. Hal ini terjadi terutama antara jamur dan jamur lendir , tetapi ditemukan dalam kelompok-kelompok yang berbeda. Bahkan pada hewan, sitokinesis dan mitosis dapat terjadi terpisah, misalnya pada tahap tertentu lalat buah perkembangan embrio. [4] Kesalahan dalam mitosis dapat membunuh sel melalui apoptosis atau menyebabkan mutasi yang dapat menyebabkan kanker .
EVOLUSI MANUSIA
Ungkap Evolusi Manusia Melalui Kerangka Manusia Purba Paling Tua

Ardi adalah kerangka manusia paling tua yang pernah ditemukan

Kerangka primata yang paling diperkirakan memiliki usia empat juta tahun lalu dianggap sudah membuat petunjuk baru untuk penyelidikan evolusi manusia. Kerangka manusia purba paling tua yang memiliki jenis kelamin perempuan ini, ditemukan di Ethiopia pada tahun 1994 dan sudah dijadikan sebagai objek penelitian ilmuwan dunia selama bertahun-tahun lamanya. Mereka berusaha membuat bukti kalau simpanse dan manusia berevolusi secara terpisah dari nenek moyangnya.

“Ini tidak sekedar fosil yang biasa. Fosil ini bukanlah kerangka kera, bukan juga kerangka manusia. kelihatannya kerangka ini memperlihakan kalau kerangka ini dahulu adalah nenek moyang kita,” ungkap co-director proyek Tim White dari University of California.

Kerangka manusia purba tertua Ardipithecus Ramidus juga biasa disebut Ardi adalah merupakan spesies primata yang hidup kira-kira 4,4 juta tahun yang lalu di sebuah wilayah yang saat ini bernama Aramis, di Ethiopia. Ardi 100 tahun lebih tua apabila kita bandingkan dengan Lucy, yaitu kerangka primata tua yang lainnya yang ditemukan di Afrika pada tahun 1974.

Kerangka manusia purba paling tua ini mempunyai tinggi 4 kaki atau kira-kira 1,2 meter serta 125 potongan rangka yang telah termasuk tengkorak kepala, gigi, tulang panggul, tangan serta tulang kaki. Ilmuwan mengatakan, data yang diambil dari bagian-bagian tubuh Ardi membuat pengetahuan baru tentang evolusi.

” Kerangka manusia purba paling tua Ardipithecus memperlihatkan kalau kita sebagai manusia sudah mengalami evolusi sampai jadi bentuk seperti sekarang memakan waktu kira-kira 6 juta tahun lamanya,” ungkap ilmuwan lain, C Owen Lovejoy dari Kent State University.

Hasil penganalisaan kerangka manusia purba paling tua ini menjelaskan kalau bobot Ardi diperkirakan kurang lebih 110 pounds atau kira-kira 49 kilogram, mempunyai tangan serta jari-jari yang panjang, dan memiliki gigi yang besar yang dipergunakan guna membantunya meraih dahan pada saat dia berpindah-pindah di antara pepohonan.

Ukuran otak kerangka manusia purba paling tua Ardi ditaksirkan sama dengan ukuran otak yang dimiliki oleh simpanse, tapi spesies ardi ini mempunyai lebih banyak kesamaan dengan manusia, misalnya kemampuan berdiri dengan tegak menggunakan dua kaki. Apa pendapat Anda? Saya sendiri tidak percaya dengan penelitian ini, karena saya sebagai manusia yang beragama percaya bahwa Nabi Adam lah nenek moyang manusia, bagaimana dengan Anda? Percayakah Anda bahwa manusia berevolusi dari Ardi?
YANG TERSEMBUNYI DI BALIK PERCOBAAN MILLER

Penelitian yang paling diterima luas tentang asal usul kehidupan adalah percobaan yang dilakukan peneliti Amerika, Stanley Miller, di tahun 1953. (Percobaan ini juga dikenal sebagai “percobaan Urey-Miller” karena sumbangsih pembimbing Miller di University of Chicago, Harold Urey). Percobaan inilah satu-satunya “bukti” milik para evolusionis yang digunakan untuk membuktikan pendapat tentang “evolusi kimiawi”. Mereka mengemukakannya sebagai tahapan awal proses evolusi yang mereka yakini, yang akhirnya memunculkan kehidupan.

Melalui percobaan, Stanley Miller bertujuan membuktikan bahwa di bumi yang tak berkehidupan miliaran tahun lalu, asam amino, satuan molekul pembentuk protein, dapat terbentuk dengan sendirinya secara alamiah tanpa campur tangan sengaja apa pun di luar kekuatan alam. Dalam percobaannya, Miller menggunakan campuran gas yang ia yakini terdapat pada bumi purba (yang kemudian terbukti tidak tepat). Campuran ini terdiri dari gas amonia, metana, hidrogen, dan uap air. Karena gas-gas ini takkan saling bereaksi dalam lingkungan alamiah, ia menambahkan energi ke dalamnya untuk memicu reaksi antar gas-gas tersebut. Dengan beranggapan energi ini dapat berasal dari petir pada atmosfer purba, ia menggunakan arus listrik untuk tujuan tersebut.

Atmosfer purba yang Miller coba tiru dalam percobaannya tidaklah sesuai dengan kenyataan. Di tahun 1980-an, para ilmuwan sepakat bahwa seharusnya gas nitrogen dan karbon dioksidalah yang digunakan dalam lingkungan buatan itu dan bukan metana serta amonia.

Ilmuwan Amerika, J. P. Ferris dan C. T. Chen mengulangi percobaan Miller dengan menggunakan lingkungan atmosfer yang berisi karbon dioksida, hidrogen, nitrogen, dan uap air; dan mereka tidak mampu mendapatkan bahkan satu saja molekul asam amino. (J. P. Ferris, C. T. Chen, “Photochemistry of Methane, Nitrogen, and Water Mixture As a Model for the Atmosphere of the Primitive Earth,” Journal of American Chemical Society, vol. 97:11, 1975, h. 2964.)

Terdapat sejumlah temuan yang menunjukkan bahwa kadar oksigen di atmosfer kala itu jauh lebih tinggi daripada yang sebelumnya dinyatakan para evolusionis. Berbagai penelitian juga menunjukkan, jumlah radiasi ultraviolet yang kala itu mengenai bumi adalah 10.000 lebih tinggi daripada perkiraan para evolusionis. Radiasi kuat ini dipastikan telah membebaskan oksigen dengan cara menguraikan uap air dan karbon dioksida di atmosfer.

Keadaan ini sama sekali bertentangan dengan percobaan Miller, di mana oksigen sama sekali diabaikan. Jika oksigen digunakan dalam percobaannya, metana akan teruraikan menjadi karbon dioksida dan air, dan amonia akan menjadi nitrogen dan air. Sebaliknya, di lingkungan bebas oksigen, takkan ada pula lapisan ozon; sehingga asam-asam amino akan segera rusak karena terkena sinar ultraviolet yang paling kuat tanpa perlindungan dari lapisan ozon. Dengan kata lain, dengan atau tanpa oksigen di bumi purba, hasilnya adalah lingkungan mematikan yang bersifat merusak bagi asam amino.

Anehnya, mengapa percobaan Miller masih saja dimuat di buku-buku pelajaran dan dianggap sebagai bukti penting asal usul kehidupan secara kimiawi? Ini sekali lagi menunjukkan betapa evolusi bukanlah teori ilmiah, melainkan keyakinan buta yang tetap dipertahankan meskipun bukti menunjukkan hal sebaliknya.

Kalangan masyarakat awam adalah yang umumnya tidak mengetahui kenyataan ini, dan menganggap pernyataan evolusi manusia didukung oleh berbagai bukti kuat. Anggapan yang salah tersebut terjadi karena masalah ini seringkali dibahas di media masa dan disampaikan sebagai fakta yang telah terbukti. Tetapi mereka yang benar-benar ahli di bidang ini mengetahui bahwa kisah “evolusi manusia” tidak memiliki dasar ilmiah.
SPEMATOGENESIS
Spermatogenesis
Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas

Spermatogenesis adalah proses dimana laki-laki spermatogonium berkembang menjadi dewasa spermatozoa , juga dikenal sebagai sperma sel. Spermatozoa adalah laki-laki dewasa gamet pada reproduksi seksual organisme banyak. Jadi, spermatogenesis adalah versi laki-laki dari gametogenesis . Dalam mamalia terjadi pada pria testis dan epididimis secara bertahap, dan untuk manusia memakan waktu sekitar 64 hari. [1] Spermatogenesis sangat tergantung pada kondisi yang optimal untuk proses terjadi dengan benar, dan sangat penting untuk reproduksi seksual . Ini dimulai pada pubertas dan biasanya terus terganggu sampai kematian, meskipun sedikit menurun bisa dilihat dalam kuantitas sperma diproduksi dengan meningkatnya usia. Seluruh proses dapat dibagi menjadi beberapa tahap yang berbeda, masing-masing sesuai dengan jenis tertentu dari sel: Tipe sel ploidy / kromosom kromatid Proses
spermatogonium (Iklan jenis, Ap dan B) diploid/46 2N: 2C spermatocytogenesis ( mitosis )
primer spermatosit diploid/46 2N: 4C spermatidogenesis ( meiosis 1)
sekunder spermatosit haploid/23 1N: 2C spermatidogenesis ( meiosis 2)
spermatid haploid/23 1N: 1C spermiogenesis
sperma haploid/23 1N: 1C spermiat

Tujuan

Spermatogenesis menghasilkan gamet laki-laki dewasa, biasanya disebut sperma namun secara khusus dikenal sebagai spermatozoa, yang mampu membuahi counterpart gamet betina, yang oosit , selama konsep untuk menghasilkan bersel individu dikenal sebagai zigot . Ini merupakan hal terpenting dalam reproduksi seksual dan melibatkan dua gamet baik berkontribusi setengah normal set kromosom ( haploid ) untuk menghasilkan kromosomal normal ( diploid ) zigot.

Untuk mempertahankan jumlah kromosom pada keturunannya – yang berbeda antara spesies – gamet masing-masing harus memiliki setengah jumlah kromosom biasa hadir dalam sel-sel tubuh lainnya. Jika tidak, keturunannya akan memiliki dua kali jumlah normal kromosom, dan kelainan serius akan terjadi. Pada manusia, kelainan kromosom yang timbul dari spermatogenesis yang tidak benar dapat menyebabkan Sindrom Down , Sindrom Klinefelter , dan aborsi spontan .
[ sunting ]
Lokasi

Spermatogenesis terjadi dalam beberapa struktur sistem reproduksi laki-laki . Tahap awal terjadi dalam testis dan kemajuan ke epididimis tempat gamet berkembang dewasa dan disimpan sampai ejakulasi . The tubulus seminiferus di testis merupakan titik awal untuk proses, di mana sel-sel induk yang berdekatan dengan dinding tubulus membagi batin dalam arah sentripetal dimulai dari dinding dan melanjutkan ke bagian terdalam, atau lumen-untuk menghasilkan sperma yang belum matang. Pematangan terjadi pada epididimis dan melibatkan akuisisi ekor dan karenanya motilitas.
Tahapan
[ sunting ]
Spermatocytogenesis

Skema Diagram Spermatocytogenesis
Artikel utama: Spermatocytogenesis

Spermatocytogenesis adalah bentuk laki-laki dari gametocytogenesis dan hasil dalam pembentukan spermatosit memiliki setengah komplemen normal bahan genetik. Dalam spermatocytogenesis, diploid spermatogonium yang berada di kompartemen basal tubulus seminiferus, membagi mitotically untuk menghasilkan dua sel antara diploid disebut spermatosit primer . Setiap spermatosit primer kemudian bergerak ke dalam kompartemen adluminal dari tubulus seminiferus dan duplikat DNA-nya dan kemudian mengalami meiosis I untuk menghasilkan dua haploid spermatosit sekunder . Divisi ini berimplikasi sumber variasi genetik, seperti inklusi acak kromosom baik orangtua, dan crossover kromosom , untuk meningkatkan keragaman genetik gamet tersebut.

Setiap pembelahan sel dari spermatogonium untuk spermatid adalah tidak lengkap; sel tetap terhubung satu sama lain oleh jembatan sitoplasma untuk memungkinkan pembangunan sinkron. Juga harus dicatat bahwa tidak semua spermatogonium membelah untuk menghasilkan spermatosit, dinyatakan pasokan akan habis. Sebaliknya, beberapa jenis spermatogonium membelah untuk menghasilkan salinan sendiri, sehingga memastikan pasokan konstan gametogonia untuk bahan bakar spermatogenesis.
Spermatidogenesis
Artikel utama: Spermatidogenesis

Spermatidogenesis adalah penciptaan spermatid dari spermatosit sekunder. spermatosit sekunder yang dihasilkan sebelumnya cepat masukkan meiosis II dan membagi untuk menghasilkan spermatid haploid. Singkatnya tahap ini berarti bahwa spermatosit sekunder jarang terlihat dalam sediaan histologis.

spermiogenesis
Artikel utama: spermiogenesis

Selama spermiogenesis, yang spermatid mulai tumbuh ekor, dan mengembangkan pertengahan menebal-piece, di mana mitokondria berkumpul dan membentuk sebuah axoneme . Spermatid DNA juga mengalami kemasan, menjadi sangat kental. DNA dikemas terlebih dahulu dengan spesifik protein dasar nuklir, yang kemudian diganti dengan protamines selama elongasi spermatid. resultan yang padat kromatin adalah transcriptionally tidak aktif. The aparatus Golgi mengelilingi inti kental sekarang, menjadi akrosom . Salah satu sentriol sel memanjang menjadi ekor sperma.

Pematangan kemudian terjadi di bawah pengaruh testosteron, yang tidak perlu menghapus sisa sitoplasma dan organel . Sitoplasma kelebihan, yang dikenal sebagai sisa tubuh, adalah phagocytosed oleh sekitar sel Sertoli di testis . Spermatozoa yang dihasilkan sekarang matang tetapi motilitas kekurangan, membuat mereka steril. Spermatozoa matang dilepaskan dari pelindung sel Sertoli ke dalam lumen tubulus seminiferus dalam proses yang disebut spermiation.

The-motil spermatozoa non diangkut ke epididimis dalam testis cairan disekresi oleh sel Sertoli dengan bantuan kontraksi peristaltik . Sementara di epididimis keuntungan motilitas spermatozoa dan menjadi mampu pemupukan. Namun, transportasi dari spermatozoa matang melalui sisa sistem reproduksi laki-laki dicapai melalui kontraksi otot daripada spermatozoon baru-baru ini diakuisisi motilitas tersebut.
Peran sel Sertoli

Bertanda diagram organisasi sel Sertoli (merah) dan spermatosit (biru) di testis. Spermatid yang belum mengalami spermination yang melekat pada puncak lumenal sel
Artikel utama: sel Sertoli

Pada semua tahap diferensiasi, sel-sel spermatogenik dalam kontak dekat dengan sel Sertoli yang berpikir untuk memberikan dukungan struktural dan metabolisme sel-sel sperma untuk berkembang. Sel Sertoli tunggal memanjang dari membran basal ke lumen tubulus seminiferus, meskipun proses sitoplasma sulit dibedakan pada tingkat mikroskopik cahaya.

Sel Sertoli melayani sejumlah fungsi selama spermatogenesis, mereka mendukung gamet berkembang dengan cara berikut:
Menjaga lingkungan hidup yang diperlukan bagi perkembangan dan pematangan melalui darah testis-penghalang
Mengeluarkan zat memulai meiosis
Mengeluarkan cairan testis mendukung
Mengeluarkan androgen-binding protein , yang berkonsentrasi testosteron dalam jarak dekat dengan gamet berkembang
Testosteron dibutuhkan dalam jumlah yang sangat tinggi untuk pemeliharaan saluran reproduksi, dan ABP memungkinkan tingkat kesuburan yang jauh lebih tinggi
Mengeluarkan hormon yang mempengaruhi kontrol kelenjar hipofisis spermatogenesis, khususnya hormon polipeptida, inhibin
sitoplasma Phagocytose sisa sisa dari spermiogenesis
Mereka rilis Antimullerian hormon yang mencegah pembentukan Duct mullerian / Oviduk.
Lindungi spermatid dari sistem kekebalan tubuh pria.
[ sunting
Mempengaruhi]
faktor

Proses spermatogenesis sangat sensitif terhadap fluktuasi lingkungan, khususnya hormon dan suhu. Testosteron diperlukan dalam konsentrasi lokal besar untuk mempertahankan proses, yang dicapai melalui pengikatan testosteron oleh protein pengikat androgen hadir dalam tubulus seminiferus. Testosteron diproduksi oleh sel interstisial, juga dikenal sebagai sel Leydig , yang berada berdekatan dengan tubulus seminiferus.

epitel seminiferus sensitif terhadap suhu tinggi pada manusia dan beberapa spesies lain, dan akan terpengaruh oleh suhu setinggi suhu tubuh normal. Akibatnya, testis terletak di luar tubuh dalam kantong kulit yang disebut skrotum . Suhu optimal dijaga pada 2 ° C ( pria ) – 8 ° C ( mouse ) di bawah suhu tubuh. Hal ini dicapai dengan peraturan aliran darah [2] dan posisi terhadap dan jauh dari panas tubuh oleh otot cremasteric dan dartos otot polos dalam skrotum.

kekurangan diet (seperti vitamin B, E dan A), steroid anabolik , logam (kadmium dan timbal), x-ray exposure, dioxin , alkohol, dan penyakit menular juga akan mempengaruhi tingkat spermatogenesis.
kontrol Hormonal]
kontrol hormonal spermatogenesis bervariasi antar spesies. Mekanisme pada manusia tidak sepenuhnya dipahami, tetapi diketahui bahwa inisiasi spermatogenesis terjadi pada pubertas karena interaksi antara hipotalamus , kelenjar hipofisis dan sel Leydig . Jika kelenjar hipofisis dihapus, spermatogenesis masih dapat diprakarsai oleh hormon merangsang folikel dan testosteron .

Follicle stimulating hormon baik merangsang produksi androgen binding protein oleh sel Sertoli, dan pembentukan sawar darah-testis . androgen binding protein penting untuk berkonsentrasi di tingkat testosteron cukup tinggi untuk memulai dan mempertahankan spermatogenesis, yang dapat 20-50 kali lebih tinggi dari konsentrasi yang ditemukan dalam darah. Follicle stimulating hormon dapat memulai eksekusi testosteron di testis, tapi begitu dikembangkan hanya testosteron diperlukan untuk mempertahankan spermatogenesis. Namun, meningkatkan tingkat hormon follicle stimulating akan meningkatkan produksi spermatozoa dengan mencegah apoptosis tipe A spermatogonium. The hormon inhibin bertindak untuk mengurangi tingkat hormon follicle stimulating. Studi dari model hewan menunjukkan bahwa hormon gonadotropin (LH dan FSH baik) mendukung proses spermatogenesis dengan menekan sinyal proapoptotic dan karenanya meningkatkan kelangsungan hidup sel spermatogenik. [3]

Sel-sel Sertoli sendiri menengahi bagian spermatogenesis meskipun produksi hormon. Mereka mampu memproduksi hormon estradiol dan inhibin . Sel-sel Leydig juga mampu menghasilkan estradiol selain testosteron produk utama mereka.

s


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: